Advertisement
Berita Nusra ( Bali) -- Pemerintah Pusat menegaskan bahwa krisis atau kelangkaan BBM yang terjadi di berbagai daerah bukan disebabkan oleh kurangnya pasokan atau stok nasional yang menipis, melainkan karena masalah hambatan distribusi dan lonjakan konsumsi.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa stok BBM nasional saat ini masih berada dalam posisi aman. Ketahanan stok nasional untuk Pertalite (RON 90) berkisar antara 16 hingga 18 hari, sementara untuk Solar dan BBM nonsubsidi di atas RON 92 berada di kisaran 18 hingga 20 hari.
Beberapa faktor utama yang memicu antrean panjang dan kelangkaan BBM di lapangan:
• Kendala Sistem Logistik dan Distribusi: Hambatan teknis seperti proses bongkar muat kapal tanker dan keterbatasan armada mobil tangki yang harus melayani banyak SPBU sekaligus membuat pengiriman ke daerah terhambat.
• Migrasi Konsumsi & Ketidaksesuaian Kuota: Terjadi peningkatan konsumsi BBM bersubsidi secara masif akibat fluktuasi harga BBM nonsubsidi. Hal ini membuat kuota berkala di SPBU cepat habis sebelum pasokan baru tiba.
• Aksi Panic Buying: Kekhawatiran warga akan kelangkaan memicu pembelian berlebih. Konsumen yang biasanya membeli secukupnya memilih untuk mengisi tangki penuh (full tank), sehingga menghabiskan stok harian SPBU dengan sangat cepat.
• Indikasi Kebocoran dan Penyalahgunaan: Temuan dari Ombudsman RI menunjukkan adanya dugaan aktivitas pelangsiran BBM serta penggunaan tangki kendaraan yang telah dimodifikasi ilegal di sejumlah provinsi.
Saat ini, krisis pasokan di tingkat retail dilaporkan sempat meluas dari wilayah Bali hingga ke 10 provinsi lainnya di Indonesia, termasuk wilayah Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan.
Kendati demikian, Pertamina terus berupaya menambah pasokan harian serta mempercepat jalur distribusi untuk mengurai antrean di SPBU.
Kondisi Antrean BBM Di Bali
Saat ini Bali tengah dilanda antrean kendaraan yang mengular panjang di berbagai SPBU akibat kelangkaan BBM yang cukup parah.
Situasi di lapangan menunjukkan antrean kendaraan roda dua maupun roda empat mengular hingga lebih dari 1 kilometer di wilayah Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan, hingga Jembrana. Bahkan, saking parahnya dampak kelangkaan ini, beberapa universitas (seperti Universitas Udayana) terpaksa menerapkan kuliah daring (Work From Home), sejumlah warga dilaporkan pingsan akibat kelelahan mengantre di tengah cuaca panas, dan sebagian lainnya terpaksa tidur di trotoar depan SPBU karena kehabisan bensin sama sekali untuk pulang.
Berdasarkan investigasi Ombudsman RI serta koordinasi antara Gubernur Bali Wayan Koster dan Direktur Utama PT Pertamina Simon Aloysius Mantiri, berikut adalah kronologi teknis mengapa kelangkaan akut ini bisa terjadi di Bali:
1. Kendala Teknis Kapal Tanker (Pemicu Utama): Pasokan BBM tersendat karena kapal pengangkut BBM mengalami kendala teknis saat hendak bersandar di Terminal BBM Sanggaran dan Manggis. Kapal mengalami kesulitan menurunkan jangkar untuk melakukan proses bongkar muat, sehingga jadwal bongkar muat yang seharusnya selesai pukul 06.30 WITA harus mundur jauh hingga pukul 22.00 WITA.
2. Pemotongan Jatah Harian SPBU: Sebelum kapal logistik tersebut berhasil mengatasi kendala sandar, pasokan BBM ke sejumlah SPBU di Bali sempat dikurangi sebesar 30% hingga 40%. Akibatnya, banyak SPBU kehabisan stok Pertalite dan Pertamax dengan cepat, bahkan beberapa SPBU terpaksa tutup total.
3. Lonjakan Konsumsi Harian: Rata-rata konsumsi harian BBM (khususnya Pertalite) di Bali saat ini sangat tinggi, mencapai 2.200 kiloliter per hari. Ketika distribusi terhambat sedikit saja, dampaknya langsung melumpuhkan ketersediaan di retail SPBU.
4. Efek Dominal Panic Buying: Begitu isu kelangkaan mencuat, warga berbondong-bondong memenuhi SPBU secara serentak untuk melakukan pembelian secara full tank demi mengamankan cadangan bahan bakar mereka, yang akhirnya membuat stok SPBU yang baru tiba langsung ludes dalam hitungan jam.
Penanganan Saat Ini:
Untuk memulihkan situasi, Pertamina Patra Niaga telah menggelontorkan tambahan pasokan darurat sebesar 57,9 juta liter BBM (terdiri dari 44,9 juta liter Pertalite dan 13 juta liter Pertamax) yang disalurkan bertahap melalui Terminal Sanggaran dan Manggis.
Pertamina juga mengoperasikan SPBU selama 24 jam penuh serta mengerahkan metode delivery system khusus (menjual Pertalite kemasan jeriken 3 liter langsung ke pengendara motor di jalur antrean) untuk mengurai kepadatan.
Respon Pemkab Buleleleng
Kabupaten Buleleng saat ini tengah menghadapi dampak kelangkaan BBM yang serius, dengan situasi antrean kendaraan yang mengular panjang di hampir seluruh 21 SPBU di wilayah tersebut.
Sejak beberapa hari terakhir, antrean kendaraan roda dua maupun roda empat di wilayah perkotaan Singaraja hingga kecamatan lainnya dilaporkan telah mengular hingga 1 kilometer sejak dini hari.
Antrean Warga untuk mendapatkan giliran mengisi BBM bahkan bisa mencapai 3 hingga 6 jam, menyebabkan para pekerja seperti pengemudi ojek online terpaksa menonaktifkan aplikasi mereka dan kehilangan pendapatan harian.
Beberapa titik SPBU di Buleleng yang menjadi pusat antrean padat antara lain:
• SPBU Gajah Mada (Banjar Jawa): Kepadatan luar biasa terpantau di SPBU Gajah Mada, di mana warga bahkan sudah mengantre sejak subuh sebelum pelayanan dibuka.
• SPBU Kaliuntu & SPBU Banyuasri: Pengendara memadati area ini hingga menyebabkan kemacetan arus lalu lintas di sekitarnya.
• SPBU Anturan & SPBU Dencarik: Di SPBU Anturan, dilaporkan terdapat warga yang pingsan akibat kelelahan mengantre berjam-jam. Sementara di kawasan Dencarik, muncul keluhan dari petani lokal yang kesulitan mendapatkan akses BBM untuk kebutuhan pertanian mereka.
Respons dan Langkah Darurat Pemerintah Daerah:
Untuk mengantisipasi jatuhnya korban akibat kelelahan fisik atau kendala kesehatan di tengah antrean panjang, Pemerintah Kabupaten Buleleng telah menyiagakan tenaga kesehatan (nakes) dan unit ambulans dari 20 puskesmas setempat untuk berjaga secara berkala di 21 SPBU.
Personel Dishub, Satpol PP, serta aparat TNI/Polri juga diterjunkan untuk mengatur lalu lintas dan menjaga ketertiban. Warga diimbau untuk tetap tenang, membeli BBM sesuai kebutuhan (tidak panic buying), serta disarankan kepada pengelola SPBU untuk membatasi pembelian tangki modifikasi agar pasokan dapat terbagi merata.Pertamina menegaskan bahwa secara garis besar stok bahan bakar minyak (BBM) nasional maupun regional untuk wilayah Bali sebenarnya aman terkendali.
Masalah utama terletak pada hambatan alur logistik kapal tanker di Terminal BBM Sanggaran dan Manggis.
Berikut adalah poin-poin kebijakan dan langkah strategis yang diterapkan Pertamina khusus untuk memulihkan pasokan di wilayah Buleleng dan Bali secara umum:
• Penebalan Pasokan Darurat (Extra Dropping): Pertamina menggelontorkan tambahan pasokan total sebesar 57,9 juta liter BBM secara bertahap. Tambahan ini terdiri dari 44,9 juta liter Pertalite dan 13 juta liter Pertamax untuk mengisi kembali tangki-tangki SPBU yang kosong.
• Optimalisasi Armada dan Penyaluran dari Depo Manggis: Pengiriman BBM ke 21 SPBU di Buleleng dipercepat melalui koordinasi intensif dengan Integrated Terminal Manggis. Pertamina menyiagakan 108 mobil tangki serta ratusan awak tangki untuk memastikan pengiriman dari depo menuju SPBU tujuan dilakukan tanpa henti.
• Perpanjangan Jam Operasional SPBU: Guna mengurai antrean yang menumpuk di jam-jam sibuk, Pertamina menginstruksikan SPBU-SPBU di koridor strategis (termasuk jalur utama Singaraja-Gilimanuk dan wilayah perkotaan Buleleng) untuk beroperasi penuh selama 24 jam.
• Pengetatan Pengawasan dan Larangan Jeriken: Pertamina bekerja sama dengan aparat kepolisian untuk memperketat pembelian BBM bersubsidi. SPBU diinstruksikan secara tegas untuk melarang pembelian menggunakan jerigen tanpa surat rekomendasi resmi serta melarang pengisian kendaraan dengan tangki modifikasi (pelangsir ilegal) agar kuota tepat sasaran.
• Sinkronisasi dengan Kebijakan Pemda Buleleng: Pertamina mendukung langkah Pemkab Buleleng yang membatasi sementara aktivitas untuk mengurangi mobilitas publik. Salah satunya melalui kebijakan Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) serta pembelajaran daring untuk sekolah guna meredam konsumsi harian BBM yang melonjak tinggi saat masa pemulihan ini.
Adapun Target kebijakan sinergi ini adalah memulihkan volume distribusi ke tingkat normal di seluruh SPBU Buleleng dalam waktu dekat, sehingga masyarakat tidak perlu lagi melakukan panic buying yang justru memperparah keadaan.
Penulis : Muhammad Zulkipli Editor: Al Mambal

.png)